Sidoarjo, 24 Agustus 2013 malam tepatanya. Rombongan aku keluargaku dan mereka, berisap berangkat perjalanan panjang memecah malam dengan tujuan malang selatan, daerah Sumber Manjing Wetan. 17 motor 35 orang, di situlah fokus semua tekat kita, pantai biru dengan tertanam karang indah dengan sebutan PANTAI GOA CINA.
Persiapan, satu demi satu telah kita persiapkan mulai dari peralatan motor, logistic, serta perlengkapan lainnya identitas anggota misalnya. 15 Motor tampak tertata, setiap motor sudah ready dalam artian sudah siap, dari motor ke motor tercatat dalam kertas beserta pasangan selama perjalanan. Breifing di mulai, tata tertib perjalanan salah satu hal terpenting ketika kita hendak perjalanan panjangg seperti ini dan tak tertinggal pula hal yang sangat penting yaitu do'a.
 |
| breifing anggota sebelum perjalanan |
Setelah 1,5 jam kita berhenti break sejenak dikarenakan ada dua anggota rombongan gabung di kota malang masing-masing berpasangan. Malam masih setia menemani kita dengan cuaca yang sangat mendukung, 15 menit berjalan kita bergegas melanjutkan perjalanan. Anggota dari malang, sebagai guide kita mengeluarkan sekecap kata "kurang lebih tiga jam perjalanan dari sini" ujarnya. Tanpa keluhan kita segera bergegas melanjutkan perjalanan.
 |
| suasana sesampai kota malang |
Tepat pukul dua dini hari, di mulut jalan arah masuk tujuan kita medan jalan sangat mengerikan, batu tidak tertata hanya tanah yang menahannya. sepanjang 800m kita lalui dikit demi sedikit ditemani semilir angin laut yang sudah meniup kulit terluar kita. Suara ombak pantai perlahan terdengar menembus helm yang kita pakai. semangat mengahkhiri perjalan di tempat tujuan semakin membara. Tiba di lokasi parkir masih tampak hitam pekat suasana sekitar dengan tiupan angin laut dan suara ombak.
Motor telah aman di tempatanya, saat kita mencari tempat persinggahan di tujuan kita dengan modal dua tenda kecil dengan ukuran yang berbeda yang mampu menampung tiga dan empat orang. Tepat pukul 3 pagi, tenda berdiri dan segera terisikan anggota wanita, sedangkan anggota yang berada di luar tenda saling bercengkerama satu sama lain hingga tertidur sesaat beralaskan rumput liar dengan pandangan tepat di bawah titik-titik bintang. Tampak pula sebagian dari kita membuat api unggun seadanya, kacang sekecil itu pun dijadikan media memanggang untuk mengisi sisa waktu menjelang matahari terbit sambil mengawasi barang bawaan kita.
 |
| PANTAI GOA CINA |
Ombak terdengar semakin kencang, karang diterpanya tanpa ragu. Satu demi satu kita mendekati pantai masih surut, kamera sebagai mesin penghenti waktu pun tak tertinggal dalam kalungan leherku. Satu demi satu moment mereka telah tersimpan dalam kamera. Jenuh dengan satu tempat, kita mencari tempat lain. Surga di bumi, iyaa kita menyebutnya seperti itu, bisa juga dikatakan "private beach of goa cina". Satu tempat yang tampak belum terjamah khalayak umum. Satu jam lebih kita menghabiskan waktu di tempat itu dengan bermacam kegiatan terutama merasakan dinginnya air laut dan indahnya panorama yang mampu membius mata dan otak kita untuk tidak meninggalkan tempat ini.
 |
| private beach of goa cina |
|
|
|
|
|
|
 |
| aktivitas di pantai |
|
Matahari sudah tepat di atas kepala kita, dengan berat hati kita pun mengemas barang bawaan kita yang lumayan menyita waktu untuk mengemasnya. Moment persaudaraan kita yang wajib diabadikan dengan pemandangan laut PANTAI GOA CINA pun tersimpan dalam kamera. Sepenggal cerita persaudaraan memecahkan malam dalam perjalanan panjang menuju PANTAI GOA CINA ini mungkin bisa buat refrensi kalian yang hendak menuju tempat itu juga.
 |
| community of journey |